cerita ini tentang seorang wanita paruh baya yang mencoba mempertaruhkan nyawanya demi anak yang ia amat sayang wanita ini bernama ibu ida wanita yang sudah rentan dan terbilang lanjut usia wanita ini hidup dengan sejuta kesederhanaannya berjuang hidup demi sesuap nasi rumah yang terbilang kecil dan hanya berdinding papan yang berbalut plastik yang ditempel disana sini tapi ia tetap mensyukuri atas apa yang telah diberikan tuhan padanya tak ada sedikit kata mengeluh terkeluar dari bibir kecilnya hanya kata bersukur bersyukur dan bersyukur setiap hari ia harus berdagang gorengan dengan tongkat yang menggantikan kaki sebelah kiri nya mengelilinya setiap sudut jalan yang berkilo kilo jauhnya hingga keringat tak dapat terbendung lagi ya memang begitulah kehidupannya ia hanya hidup sebatangkara tak ada anak bahkan suamipun tak ada lingkungannya pun tidak memperdulikan keadaanya.
sampai pada suatu ketiga saat ida berjualan gorengan mengelilingi kampung ia berhenti pada suatu gardu yang menjadi tempat pemberhentiananya diteguk air mineral yang ia bawa sambil sedikit demi sedikit mengelap keringat yang tanpa ia sadar menetes terus menerus tiba tiba terdengar suara anak kecil yang menangis dibelakang gardu ia pun segera mengambil tongkat dan berjalan kebelakang gardu sambil tergesa gesa menghampiri suara tersebut.
"astafirullah" teriak ida melihat anak kecil itu
anak kecil itu menangs sambil memegangi kakinya yang berlumuran darah idapun dengan sigap menggendong anak itu kepunggungnya yang rentan dan mendudukinya digardu dengan perlahan ida mengambil kain dan mengikat kaki anak tersebut supaya darahnya tidak menetes terus.
"dimana nak orangtuamu"tanya ida pada ank kecil
"tadi mama meninggalkanku disini dan sampe siang ini tak kembali"ucap anak kecil itu
"kamu disini sejak kapan nak"tanya ida
"sudah dari tadi pagi tapi mama tak kunjung datang"jelas anak itu
"kamu ikut ibu mau"tanya ida
anak itu menggngguk tanda setuju akhrnya anak itupun mengikuti ida perlahan anak itru ida gendong lalu ia bawa kegubuk nya yang sederhana ida pun memberikan makanan berupa nasi dan sisa gorengan yang ia jual ya memang itu yang ada buat membeli lauk ida belum mempunyai uang beberapa hari kemudian anak itu ikut hidup bersama ibu ida dan membantu ibu ida berjualan dengan senyum kecil anak itu ibu ida merasakan ada kehidupan baru yang dia rasakan
"nak besok kamu sekolah yah ibu akan memasukanmu kesekolah dasar didekat sini" tanya ibu ida
"emngnya ibu ada uang untuk menyekolahkanku" jawab bunga menunduk
"insya allah nak ibu akan berusaha biar kamu sekolah" jelasnya
hari peratama bunga sekolah ,ida merasakan begitu senang mengantarkan bunga kesekolah dengan santun bunga mencium tangan ida dan mengucapkan asslamualaikum ida merasakan amat senang karna ia merasakan mempunyai anak yang baik kini hari hari ibu ida terasa bersemangat karna kehadiran bunga ditengah tengah pilunya dan mirisnya kehidupan ida
bebrapa tahun kemudian bunga tumbuh menjadi gadis yang cantik serta berprestasi tentunya ida merasakan begitu amat senang dengan tumbuhnya anak yg selama ini ia asuh dan rawat dengan hasil keringatnya sendiri sampai suatu ketika semuanya berubah saat ida mengambilkan rapor bunga yg ditingkat menengah keatas tubuh ida yg sudah rentan rambut yg hitam sudah memutih serta kakinya yg cacat terbantu dengan tongkat yg sederhana terbuat dari kayu tentunya mengundang ejekan yg membuat bunga kesal dan marah hingga tangisan mengundang dan berlinang dipipinya ejekan demi ejekan selalu keluar
"ibunya bunga cacat penjual gorengan"jerit lelaki diujung kelas
sampai akhirnya bunga membentak ida yg sedang emasak dirumah
"bu ibu gak usah lagi kesekolah aku!"jerit bunga sambil membanting tas
"loh kenapa nak"tanya ida
"aku malu punya ibu cacat kaya kamu!"jeritbunga kesal
"astafirullah nak"jawab ida
linangan air mata mengucur deras tanpa henti mendengar ucapan bunga yang sedikit menyakitkan tapi itu tak menjadi beban ia terus berjuang sampai bunga harus mendapatkan ijasah ternyta doanya terkabul bunga lulus dengan nilai yang sempurna dan mendapatkan beasiswa ida sujut sukur dan mengucapkan sukur ya allah alhamdulilah .
tapi semuanya berubah saat bunga pergi kekampus saat itu ia berjalan kaki dan tanpa sengaja ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya yg mengakibatkan ia terbental dan tak sadarkan diri tentunya itu berita duka untuk ida apa lagio ditambah bunga mengalami kebutaan karna tertabrak itu melihat hal itu ida dengan iklas mendonorkan matanya untuk anaknya tersayang tapi dokter rupanya awalmnya tak mengizinkan karna sangat sayang bila mata ida didonorkan dan ida harus mengalami kebutaan ditengah kecacatannya yang sudah ia terima walaupun dilarang ida tetap bersih kukuh untuk mendonorkan matanya
operasipun dilakukan dengan segala upaya ida berusaha menahan rasa sakit akibat operasi itu demi anaknya selanmg berap jam penutup mata bunga dibuka dan dokter berkata
"berterimakasihlah nak pada ibumu dia rela mendonorkian matanmya untukmu kasih sayangnya begitu tulus padamu" jawab dokter itu
"astafirullah dok sekarang ibu saya dimana" tanya bunga
"ibumu ada diruang icu" jawab dokter
bebrapa jam kemudian dengan perlahan bunga mendorong kursi rodanya dan menjenguk ibunya yg terbaring lemah
"ibu maafkan bunga ya selama ini bunga udah menyakitkan hati ibu ibu rela mendonorkan mata ibu buatku"tanya bunga
"iyah tidak apa apa ibu iklas nak" jawab ibu ida
kini kita harus sadar walaupun dengan sejuta kekurangannya dia rela merelakan demi anaknya walau bunga bukanlah anak kandungnya tapi dia amat sangat sayang pada bunga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar